Dia tidak menanyakan siapa yang menjahilinya tapi,
dia langsung menangis dan pulang lagi. Dan, pada saat itu juga, aku terbangun.
Ternyata rencana-rencana dan kakakku pergi subuh itu hanya mimpi.
Aku langsung siap-siap dan sarapan seperti hari
biasa. Tapi, saat itu, di semua daerah terkena ledakan. Semua orang pergi lari
terbirit-birit. Seperti yang sudah mau selesai ya ceritanya? Padahal, ini hanya
awalan dari petualanganku. Semua rumah hancur. Berjuta-juta orang terlempar
karena ledakan dan entah kemana. Saat semuanya sudah gersang & hitam yang
kulihat hanya ada Pierre yang berlari ke arahku sambil mengais dan mengusap air
matanya. Dia berteriak dengan suara tangisan “ISAAAC!!!! Tolong, tolong
tenangkan aku, bantu aku, AARRRGGHHH!!!!!! AYAH! IBU! KAKAK!!” dia pun terjatuh
dan menangis. Dia sudah tidak berdaya. Akupun mendekatinya dan mencoba
menenangkannya. “Isaac, tolong aku....” “......”. aku hanya bisa mengusap
punggungnya dan hanya bisa berkata “sabar, sabar”. “Isaac.... Bagaimana...
Bagaimana aku bisa sabar kalau keadaanya seperti ini?????” “Maaf Pierre, yang
aku bisa katakan hanyalah itu” “Bagaimana kau..... Bisa setenang itu pada saat
keluargamu tiada? Tolong.... Beritahu aku caranya....” “Aku mencoba tetap teguh
dan tidak mena-“ pada saat itupun, air mataku jatuh setetes. “Aku, akan mencari
yang lain. Denganmu maukah kau membantuku? Pierre?” dia mengangguk sambil
mengusap seluruh air matanya. Tak lama kemudian, kami menemukan sebuah makanan
dan kami beristirahat di situ.
Kami melihat makhluk
seperti Ogre(makhluk berbadan besar & gendut biasanya sih, warna hijau).
Kami langsung lari karena kami terlalu takut Ogre itu tiba-tiba melihat kami
dan mengejar kami dengan kecepatan maksimumnya. “WAAAAAHHH!!! LARIII!!!!” kata
Pierre. “RRROOAAARRR!!!!” Ogre itu mengamuk dan dia melemparkan bola api dari
mulutnya. “Pierre!!! Tolong aku” Pierre pun langsung mengeluarkan kekuatan
besinya dan melindungi aku dan Pierre. “*Fuuuuhh*” nafasku berhembus dan akupun
mengelap keringat yang sudah aku keluarkan. Dia langsung menghancurkan benteng
besi itu dan akan mengeluarkan bola api lagi. Kali ini kami pasti akan kena
bola api itu karena, Pierre pun sudah terjatuh dan tidak akan sempat membangun
benteng lagi.
Tapi, pada saat itu
tiba-tiba aku mengeluarkan suara yang
sangat keras dan membuat kuping sakit
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakku. Suaraku berhasil
menghancurkan bola api itu dan menghancurkan Ogre raksasa itu. Akupun terjatuh
dan duduk lagi pada saat itu Pierre melihatku dengan mata sedikit melotot dan
mulut menganga. Akupun tersenyum kepada Pierre dan Pierre pun berhenti bengong
dan sama-sama tersenyum. “Kau... Sudah menemukan kekuatanmu, Isaac.”
“WOOOOHHOOOOOO!!!!!!! AKU MENEMUKAN KEKUATANKU!!!!!!” “Dan aku tahu apa
kekuatanmu, keluatanmu adalah..... Emosi” “Emosi? Artinya aku bisa
mengendalikan apa? Coba jelaskan” “Jadi, saat tadi tanpa sadar, kau menambahkan
emosi tegangmu dan saking tegangnya, kau mengeluarkan emosi yang sangat
berlebihan itu jadi kau bisa teriak sangat keras. Kau pun bisa mengubah emosi
orang, jadi intinya, kau bisa mencuci otak. Maksudku jurusmu adalah jenis jurus
pencuci otak karena bisa mengubah atau menambahkan emosi tapi, kurasa dalam
level kekuatanmu kau hanya bisa mengubah atau menambahkan emosi dirimu sendiri
saja” “...... Wow, keren..... jadi, kalau aku tahu kekuatanku dari tadi aku
bisa membuatmu menjadi tidak bersedih lagi” “Yap, tepat sekali”. Aku dan Pierre
pun berjalan dengan penuh semangat.
No comments:
Post a Comment